menghayati panca indera tanpa harus terjajah olehnya

disajikan terpisah dengan kuahnya. dengan ketupat.
tampak dari salah satu sudut kopikoe kopimoe
lesehan di via via
udang kuah woku
tukang rujak bebeg
IMG_20111102_201940
masjid2
fragile as plastic doll
fake beauty1
combrang

Terbaru

Soto Bangka di Kampoeng Bangka

Pembaca blog saya udah pada tahu belum, kalau saya ini maniak soto?

Saya memang penggila soto dan terobsesi untuk menjajal soto dari seluruh nusantara. Jadi ketika melewati Panglima Polim Raya dan melihat plang billboard gede restoran yang menyediakan menu khas Bangka, tertariklah aku. Yup, Kampoeng Bangka nama restoran ini. Terletak di pinggir jalan raya Panglima Polim. Kalau bulan puasa, buka nyaris 24 jam.

Secara interior, dari restoran ini tidak ada yang menarik. Malah pas masuk, kirain seperti rumah makan prasmanan. Di dalam ternyata juga menyediakan oleh-oleh khas Bangka. Menurut saya , seperti oleh-oleh khas Palembang, karena yang dijual memang sebangsa krupuk-krupuk gitu.

Menunya cukup beragam, dari pembuka hingga menu utama. Tetapi mata saya sudah tertarik duluan oleh soto bangka. Langsung pesan! Dan berikut tampilannya:

Soto Bangka ini ternyata isinya cukup minimalis juga ya. Mie kuning, suwiran ayam, ketupat, tauge, telur rebus iris. Disajikan terpisah dengan kuahnya. Kuahnya sendiri bening, rasanya light. Secara keseluruhan, okelah, lumayan. Entah karena Kampoeng Bangka memang memasaknya demikian, atau memang rasa aslinya memang begitu-begitu saja. Tapi dibandingkan Soto Padang, lebih memilih Soto Bangka deh. Kapan-kapan ditulis tentang petualangan icip Soto Padang yang cukup ‘traumatis’.  :mrgreen:

Tetapi ada satu pertanyaan tertinggal: memangnya Bangka ada menu khas soto ya? Atau selama ini kurang tenar saja dibanding soto Kudus, Soto Makassar, Soto Medan, Soto Padang, Soto Semarang, Soto Jakarta, Tauto, Sroto, dll.

A Sanctuary at Kopikoe Kopimoe

Rasanya menyenangkan ketika nemu juga tempat ini. Yaps, berawal dari browsing dan menemukan tempat ini dari tulisan beberapa blog. Berhubung dekat, maka dibelain lah untuk mencari-cari Kopikoe Kopimoe ini. Kalau membaca-baca reviewnya sih, yang dipuji selain tempatnya, adalah tentang racikan kopinya.

Berhubung bukan penggemar kopi, tapi penyuka petualangan kuliner (sesuai seperti tagline blog ini), maka terbitlah rasa penasaran saya. Cari-cari di gmaps, seharusnya sih ga jauh dari Blok M Square. Tinggal jalan kaki aja. Jujur aja, petunjuk di blog yang menuliskan lokasinya di tengah-tengah Little Tokyo Blok M, tetapi kalau di gmaps berada di sisi sebaliknya Little Tokyo, agak memusingkan juga. Walhasil, sempet muter-muter jalan kaki bolak-balik menyusuri Jl. Melawai 9 dan Jl. Melawai 4, demi Kopikoe Kopimoe. Karena sudah lelah, tanya ke ibu-ibu yang lagi santai ngaso di deket parkiran motor. Ternyata menurut petunjuk si ibu, lokasinya tepat di seberang Hotel Golden Boutiqe. Walah, kalau itu mah, tahuuu. So ketemulah, Kopikoe Kopimoe. Tepat di Jl. Melawai 9 no. 2, seberang Hotel Golden Boutiqe dan Supermarket Papaya.

Ternyata memang betul, suasana dan interiornya sangat cozy. Lapang, dengan pencahayaan yang hangat. Pengaturan pernak perniknya juga tidak memberi kesan ‘penuh’, dan kental dengan aksen Jepang. Fasad berupa kaca dan pintu kayu. Yups, tembok depan dan samping Kopikoe Kopimoe ini full kaca. Jadi berasa etalase. Tapi dengan pengaturan yang cihuy, dan walau terletak di Little Tokyo, ga seperti berasa dipajang. :D

Kalau dibandingkan dengan Blumchen Koffee di Fatmawati yang sama-sama kedai kopi hommy gitu, lebih suka Kopikoe Kopimoe sih. Lebih lapang dan lega, dibandingkan Blumchen yang rasanya ‘penuh’ dan terlalu remang-remang.

Selain itu, ni kedai juga jadi satu ama butik batik dan galeri seni. Kain batik yang dipajang bagus-bagus, ada batik tulis dan cap. Harga dari 125 ribu ke atas. Motifnya dari yang klasik, hingga kontemporer. Di galeri seninya sendiri, yang dipajang kebanyakan berupa karya lukisan dan beberapa karya patung. Galerinya gede beneeer, legaaaa, dan langit-langitnya tinggiii. Di lantai 2, dipajang beberapa karya fotografi.

Puas ngeliatin interior dan karya seni yang terpajang di galeri, saatnya menikmati menu. Ragam jenis menunya, minumannya bervariasi dari kopi, teh, coklat, dan wedangan tradisional macam bajigur. Rate-nya cukup murah, mulai dari 12ribu. Kalau snack, dari french fries hingga tape panggang dengan keju mozarella. Menu makanan, dari dori panggang sambal matah hingga menu vegetarian. Ga mahal-mahal amat (untuk tempat nongkrong kelas kafe di Jakarta), mulai dari 20 ribu hingga 50ribu.

Reviewnya, terkesan dengan menu dori sambal matahnya. Juara banget. Dorinya dipanggang (atau goreng sih?) hingga krispi diluar, tapi tetep lembut didalam. Diatasnya disiram sambal matah. Nasinya, nah ini dia uniknya, nasi rempah gitu. Jadi ada aroma herbal yang wangiii, dan rasanya juga…duh sulit dilukiskan. Masih penasaran, herbal apa saja yang ditambahkan pada nasinya. Tips untuk menikmati, keceri jeruk dulu dori-nya. Jadi rasa gurrrih krispi lembut, berpadu dengan pedas rawit, dan ada aroma serai, daun jeruk, bawang merah. Mantab!

Sebagai tempat rendezvous, atau bagiku malah sanctuary, dari keriuhan Jakarta. Tak riuh, ambience yang tenang, diiringi lagu-lagu jazz atau pop oldies. Perfecto!

PS. Sepertinya ownernya memiliki rasa humor yang tinggi. :lol:

Sandwich Bar di Via-Via Cafe

Jalan Prawirotaman, Jogjakarta, merupakan kembarannya Jalan Sosrowijayan –yang bisa dibilang Jalan Jaksanya Jogja–. Banyak turis asing menginap di area ini, karena itu selain banyak hotel, juga banyak tempat makan dan kafe/bar yang unik-unik. Salah satunya adalah Via-Via kafe yang banyak dikunjungi turis asing backpacker. Eh aku pernah ketemu Nicholas Saputra yang habis menggembel dari Borobudur, di kafe ini, dikenalin ama Mas Iman. Doi belum mandi dan tetep ganteng. :mrgreen:

Via-via kafe ini selain terdapat di Jogja juga ada di Afrika, Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Eropa. Untuk kawasan Asia cuma ada di Jogja aja.

Udah agak beberapa lama, aku mencoba menikmati Via-via dari sisi yang berbeda. Selama ini kan biasanya nongkrong di kafenya. Padahal mereka telah memperluas tempat, sehingga sekarang mereka punya sandwich bar yang tempatnya nyaman.

 

 

 

Well, gimana? Dari foto-foto di atas udah bisa keliatan kan ya, konsep Via-via ini gimana. Pokoke, kalo buatku, tempatnya uenak untuk menyepi sendirian, terutama pada siang hari. Kalau malam mungkin sudah terlalu riuh ya. Sudah begitu, free wi-fi. Lalu soal menu gimana?

Menu-menunya bercita rasa bule alias jangan ngarep rasa yang tajam. Tapi secara keseluruhan yummy kok. Ples mereka menjamin menggunakan bahan-bahan organik dan tanpa MSG. Sebagian menu juga vegetarian friendly.

Aaaahhh… Jogja itu emang surga kulineran dengan harga mureeee >.<

telur ikan woku dan kuah bening

Senyampang di deket kos ada warung yang menjual menu khas sulawesi, woku, maka suatu waktu saya sempatkan diri untuk mencobanya. Warung Woku & Dabu-dabu tersebut terletak di trotoar, warung tenda gitu, di Jl. Panglima Polim Raya. Ancer-ancernya seberangnya Ace Hardware tapi ga tepat di sebrangnya. Baru buka sore-sore jam 18an.

 

 

 

Review saya, maknyusss sekaliiiii. Mantab pake B. Favorit saya adalah telur ikan kuah bening. Kenapa? Karena kuahnya seger banget, ga amis, rasa rempah-rempahnya kuat banget. Saya penggemar lada, so, dengan rasa merica yang cukup nendang tanpa mengaburkan rasa gurihnya, jadilah menu ini menu comfort food di kala hujan atau pas tenggorokan ga enak. Daun bawangnya segar, jadi kalau dikunyah krius-krius. Tomatnya kadang pake tomat hijau atau tomat merah, tapi juga selalu segar. Dengan aroma kemangi yang wangi, ples lagi-lagi segar (biasanya kalau warungan gitu, kualitas kemanginya layu gitu kan?) jadilah menu ini juara, segar, sehat. Seporsi cukup 15ribu tanpa nasi.

Kalau foto di atas, itu udang kuah woku. Udangnya juga juara. Gede-gede, ga amis, kuah wokunya juga nendang. Seporsi 30ribu bisa ber2 atau ber3. Kepala ikan kuah wokunya juga mantab banget porsinya, bisa untuk rame-rame. Tapi karena aku ga suka kepala ikan, jadi ga pernah nyoba menu ini.

Selain kuah bening dan woku, warung ini juga sedia menu pepes ikan daun pepaya atau daun singkong. Tetapi untuk taste-ku, agak kurang mantab.

 

Rujak Bebeg Orisinil

Sebagai pendatang baru di Jakarta, bukan mall-nya atau gedung pencakar langitnya yang bikin saya terkesima. Tetapi hal-hal baru yang saya tidak temui di Jogja atau kota lainnya, dan buat saya itu betul-betul otentik.

Biasanya, saya menemukan hal-hal seperti itu justru kalau lagi jalan-jalan masuk perkampungan di Jakarta. Mulai dari kekumuhan dan kemiskinan kota yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya hingga hal-hal kecil yang mungkin buat orang lain biasa. Seperti bakul rujak bebeg ini. Pertama ngeliat, lucu dengan cara dia nguleg/mbebeg bahan-bahan rujak di dalam potongan batang kelapa (?). Bahkan salah satu bahan rujaknya ada buah mengkudu alias pace, kalau ada konsumen yang minta. Hwaaaw, pace dibuat rujak? Iuuughhh…

 

 

 

 

 

 

Seporsi rujak bebeg dibungkus dengan alas daun pisang, cuma tiga ribu loh.

icip-icip menu vietnam otentik di Lang Viet

Beberapa hari lalu, seselesainya dari slimming treatment (astaga!), saya mampir ke kedai makan dekat kantor saya di Kompleks Grand Wijaya. Sebenarnya sudah beberapa lama saya lihat ini kedai, cukup menarik rasa ingin tahu saya karena menawarkan menu khas Vietnam. Namanya Lang Viet, di blok F-36.

Dari luar, kedai ini cukup mungil dan –kalau istilah orang Jawa– ora mblejaji alias kurang meyakinkan. Tapi berhubung lagi ditraktir (nah ini) dan ingin mencoba sesuatu yang baru, maka nyobain dong ya.

Ketika masuk, wow, ternyata interiornya cukup cekli alias manis. Banyak berornamen bambu. Nuansa vietnam didapat dari baju yang dikenakan waiter dan cashiernya, baju tradisional vietnam.

Saya pesan teh sereh sebagai pembuka. Ketika datang, wow, wadahnya otentik, lucu sekali. Gelasnya/cangkirnya terbuat dari bambu beneran dan tekonya dari tembikar. Aroma serai-nya begitu wangiii…. Sengaja saya ga langsung minum, karena saking panasnya dan menikmati dulu aromanya. Teh serai ini disajikan tanpa gula dan memang itu cara terbaik menikmatinya.

 

 

 

Saya mencobai menu pho dan omelette ala saigon untuk makan besar. Sengaja ga pesen starter/pembuka, habis dari segi harga, lumayan jeh. Untuk starter, mulai dari 40an ribu, sedangkan dari menu utama dari 50an ribu. Semua belum termasuk pajak total 17,5%. Padahal udah lumayan ngiler dengan foto dan deskripsi lumpia khas Vietnam. Untuk pilihan pho-nya sendiri, cuma ada dua pilihan, yaitu ayam atau daging, dengan tiga ukuran penyajian; small, large, atau ekstra large.

 

 

 

 

 

Review saya untuk Lang Viet: luar biasa. Bahan-bahan segar dan proses memasak yang menghasilkan rasa yang maknyussss. Omelettenya tebal tapi bagian pinggir bisa begitu krispiii. Isinya penuh, dengan rasa jamur yang dominan. Makanan sehat yang sedaaaap lejat.

Pho-nya juga lebih sedap daripada pho yang pernah saya coba di foodcourt Grand Indonesia (itu ranking 3) atau pho di Senayan City (ranking 2). Kuah kaldunya itu lho, light tapi mulussss. Seger banget. Dagingnya juga banyak, empuk tanpa terasa matang berlebihan. Mie-nya juga beda. Semua bahan terasa begitu segar. Panas-panas, daun kemangi dipetik lalu cemplungkan ke kuah pho, bersama dengan taoge dan sayur lain. Tambahkan irisan rawit dan keceri jeruk nipis. MANTABBBB segernya. Huah, comfort food untuk yang lagi kurang enak badan atau pas lagi dingin musim hujan begini, apalagi pas stress.

 

Dengan kualitas seperti itu, tak heran di dindingnya tertempel penghargaan dari majalah Tattler Indonesia sebagai The Best Restaurant dua tahun berturut-turut, 2009 dan 2010.

 

 

 

 

 

Fragile as Plastic Doll

Combrang-combrangan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.