A Sanctuary at Kopikoe Kopimoe

Rasanya menyenangkan ketika nemu juga tempat ini. Yaps, berawal dari browsing dan menemukan tempat ini dari tulisan beberapa blog. Berhubung dekat, maka dibelain lah untuk mencari-cari Kopikoe Kopimoe ini. Kalau membaca-baca reviewnya sih, yang dipuji selain tempatnya, adalah tentang racikan kopinya.

Berhubung bukan penggemar kopi, tapi penyuka petualangan kuliner (sesuai seperti tagline blog ini), maka terbitlah rasa penasaran saya. Cari-cari di gmaps, seharusnya sih ga jauh dari Blok M Square. Tinggal jalan kaki aja. Jujur aja, petunjuk di blog yang menuliskan lokasinya di tengah-tengah Little Tokyo Blok M, tetapi kalau di gmaps berada di sisi sebaliknya Little Tokyo, agak memusingkan juga. Walhasil, sempet muter-muter jalan kaki bolak-balik menyusuri Jl. Melawai 9 dan Jl. Melawai 4, demi Kopikoe Kopimoe. Karena sudah lelah, tanya ke ibu-ibu yang lagi santai ngaso di deket parkiran motor. Ternyata menurut petunjuk si ibu, lokasinya tepat di seberang Hotel Golden Boutiqe. Walah, kalau itu mah, tahuuu. So ketemulah, Kopikoe Kopimoe. Tepat di Jl. Melawai 9 no. 2, seberang Hotel Golden Boutiqe dan Supermarket Papaya.

Ternyata memang betul, suasana dan interiornya sangat cozy. Lapang, dengan pencahayaan yang hangat. Pengaturan pernak perniknya juga tidak memberi kesan ‘penuh’, dan kental dengan aksen Jepang. Fasad berupa kaca dan pintu kayu. Yups, tembok depan dan samping Kopikoe Kopimoe ini full kaca. Jadi berasa etalase. Tapi dengan pengaturan yang cihuy, dan walau terletak di Little Tokyo, ga seperti berasa dipajang. 😀

Kalau dibandingkan dengan Blumchen Koffee di Fatmawati yang sama-sama kedai kopi hommy gitu, lebih suka Kopikoe Kopimoe sih. Lebih lapang dan lega, dibandingkan Blumchen yang rasanya ‘penuh’ dan terlalu remang-remang.

Selain itu, ni kedai juga jadi satu ama butik batik dan galeri seni. Kain batik yang dipajang bagus-bagus, ada batik tulis dan cap. Harga dari 125 ribu ke atas. Motifnya dari yang klasik, hingga kontemporer. Di galeri seninya sendiri, yang dipajang kebanyakan berupa karya lukisan dan beberapa karya patung. Galerinya gede beneeer, legaaaa, dan langit-langitnya tinggiii. Di lantai 2, dipajang beberapa karya fotografi.

Puas ngeliatin interior dan karya seni yang terpajang di galeri, saatnya menikmati menu. Ragam jenis menunya, minumannya bervariasi dari kopi, teh, coklat, dan wedangan tradisional macam bajigur. Rate-nya cukup murah, mulai dari 12ribu. Kalau snack, dari french fries hingga tape panggang dengan keju mozarella. Menu makanan, dari dori panggang sambal matah hingga menu vegetarian. Ga mahal-mahal amat (untuk tempat nongkrong kelas kafe di Jakarta), mulai dari 20 ribu hingga 50ribu.

Reviewnya, terkesan dengan menu dori sambal matahnya. Juara banget. Dorinya dipanggang (atau goreng sih?) hingga krispi diluar, tapi tetep lembut didalam. Diatasnya disiram sambal matah. Nasinya, nah ini dia uniknya, nasi rempah gitu. Jadi ada aroma herbal yang wangiii, dan rasanya juga…duh sulit dilukiskan. Masih penasaran, herbal apa saja yang ditambahkan pada nasinya. Tips untuk menikmati, keceri jeruk dulu dori-nya. Jadi rasa gurrrih krispi lembut, berpadu dengan pedas rawit, dan ada aroma serai, daun jeruk, bawang merah. Mantab!

Sebagai tempat rendezvous, atau bagiku malah sanctuary, dari keriuhan Jakarta. Tak riuh, ambience yang tenang, diiringi lagu-lagu jazz atau pop oldies. Perfecto!

PS. Sepertinya ownernya memiliki rasa humor yang tinggi. 😆

Iklan