Wonosobo – Dieng – Bukit Cikunir

 

Ini postingan memalukan banget. Mustinya udah diposting setahun lalu, karena perjalanannya diadakan tepat bulan April 2011. Mumpung semangat, cepetan naik cetak deh. Masalahnya udah banyak lupa tentang teknis perjalanannya. Yang tersisa adalah foto-foto.

Waktu itu saya jalan-jalan emang niatan ke Wonosobo dan Dieng. Ceritanya kangen saja, karena terakhir ke Wonosobo Dieng sudah lama banget, sekitar akhir 90an. Di Wonosobo kangen mie ongklok dan kalo di Diengnya, emang niatan pengen menyepi di pegunungan.

Berangkat via travel, berhenti tepat di kota Wonosobo. Untuk penginapan sendiri, karena sudah jamannya serba gugling, jadi tinggal cari di internet dengan kata kunci tertentu. Niscaya banyak informasi penginapan, baik di Wonosobo maupun Dieng, dengan berbagai range harga yang sesuai kantong.

Di Wonosobo, akhirnya menjajal kuliner mie ongklok. Tapi ternyata kejutan menyenangkannya bukan di mie ongkloknya. Saya justru ga sengaja nemu warung sayur khas Wonosobo. Maknyusssss buanget. Menunya bermacam-macam sayur sayuran khas produk Wonosobo dan aneka lauk pauk. Uwaaahh yang begini ini yang saya namakan bagai menemukan harta terpendam. Rasanya otentik dan suasananya juga sangat otentik. Terletak di jantung kota Wonosobo, saya sendiri cukup mencapai tempat ini dengan berjalan kaki dari penginapan.

 

 

 

Wonosobo sendiri kotanya mungil tapi bersih. Selalu suka kota kecil yang bersih. Kita bisa mengelilingi kotanya dengan berjalan kaki dan naik dokar. Saat itu saya juga melihat beberapa turis bule yang sudah tak muda lagi, ada rombongan. Mereka berjalan kaki mengelilingi Wonosobo. Turis-turis bule pasti suka berada di tempat seperti ini. Biar kota mungil tapi bersih dan menyajikan budaya yang berbeda. Mustinya Dinas Pariwisata sigap melihat peluang ini.

Kejutan kedua di Wonosobo adalah ga sengaja ketemu rumah berarsitektur kuno di pinggir jalan utama. Rupanya dia jualan beragam teh produk dari perkebunan teh di Wonosobo. Yup, Wonosobo juga mempunyai perkebunan teh, tepatnya di Tambi. Tambi ini juga tempat wisata tersendiri. Bisa teawalk dan menginap di resort milik perusahaan teh tersebut. Tempatnya luar biasa asri. Nah kalau yang saya temui di rumah ini, dia menjual macam-macam grade teh dan umumnya teh tersebut berkhasiat obat. Grade terendah, teh tersebut masih mengandung batang-batang teh. Saya menyukai tempat tersebut karena suasananya yang otentik (interior khas rumah Belanda milik peranakan Cina) dan melihat sendiri interaksi antara pemilik yang sudah sepuh dan penjual-pengepul, yang rata-rata juga sudah sepuh. Aduh betah deh, di rumah tersebut hanya sekadar melihat-lihat.

 

 

 

 

Nah, keesokan harinya perjalanan dilanjutkan ke Dieng. Dari Wonosobo pakai angkutan umum, sekitar 20an ribu apa yah, lupa. Memakan waktu sekitar satu atau dua jam. Sampai Dieng, menjelang ashar dan saya ingat saat itu sedang hujan. Jadinya cuacanya jahanam dinginnya. Duingiiiin ga kira-kira untuk orang Jogja yang terbiasa dengan panas menyengat. Malam apalagi, menggigil gak karuan dan kabut dimana-mana.

Di tempat saya menginap, ternyata juga ada guide-nya. Guide tersebut menawari saya untuk berkeliling Dieng dan melihat sunrise di Cikunir, dengan motornya. Soal harga sempat tawar menawar. Tidak usah kuatir, asal kita jujur dan tegas, insya Allah sih ga bakal ditipu. Ada baiknya juga kalau disempatkan untuk tanya-tanya soal harga sebelumnya. Seperti sudah disepakati, sebelum subuh, saya sudah bangun dan menanti Pak Guide. Perjalanan membekukan jari-jari tangan saya, untung banget hujan udah berhenti. Minimnya lampu membuat langit gelap gulita seperti beledu hitam dan seperti ada berlian yang berserakan di atasnya. Itu bintang. Menjelang subuh itu, langit Dieng betul-betul bertaburkan bintang gemintang. Luar biasa.

Pak Guide (lupa namanya sih) memarkir motor dekat dengan Telaga Cebong. Saat itu masih gelap. Lalu kami naik mendaki, lumayan tersaruk-saruk. Mana ini badan juarang olahraga, jadi mendaki sekian meter saja, nafas rasanya seperti mau putus. Sebentar-sebentar minta berhenti untuk istirahat. Puji Tuhan Alhamdulillah, sampai tepat di puncak Bukit Cikunir menjelang matahari terbit. Sekitar setengah jam saya menyaksikan atraksi kemegahan Gusti Allah, dari langit yang masih gelap, semburat merah, oranye, hingga kemudian biru menyaput cakrawala. Luar biasa jahanam indah. Kalau lupa bawa makanan sementara di atas udah kerucukan lapar, jangan kuatir. Ada penduduk setempat yang menjajakan seperti kopi, air mineral, pop mie, etc. Harga agak lebih mahal ya dimaklumi, toh mereka tiap hari membawa dagangan sambil mendaki bukit dan memanggul barang dagangan.

 

 

Sembari turun, pak Guide sempat menunjukkan kepada saya, tanaman herbal yang berkhasiat obat. Mulai untuk menyembuhkan sakit perut, menjaga kesehatan, hingga obat kuat. Kebetulan pak Guide adalah orang asli setempat. Katanya, daun purwaceng yang terkenal sebagai jamu kuat, sesungguhnya tidak berkhasiat apa-apa. Pak Guide lebih percaya khasiat tanaman yang ditunjukkan  ke saya. Sayang, daunnya sudah hancur. Udah setahun lalu gitu loh. Sempet bawa pulang sih, tapi ya udah setahun lalu. 😛

Nah ketika turun, saya baru menyadari keindahan Telaga Cebong. Magic. Luar biasa. Rupanya Gusti Allah sangat menyayangi saya, karena pagi itu cuaca sangat cerah. Sehingga bisa dihasilkan foto-foto yang indah ini. Mohon dimaklumi, ini foto-foto semua ambil dari hape lawas. Jadi ya apa adanya.

 

 

 

 

 

 

Sesudah menikmati sunrise dari ketinggian 2200 meter dpl, sekitar pukul 7 kami turun dan melanjutkan perjalanan untuk sekadar tour ke tempat-tempat wisata yang sudah dikenal, seperti telaga warna, candi, dll. Musti menyisakan waktu seharian penuh untuk benar-benar bisa menikmati semua keindahan alamnya. Pun postingan ini, tak mampu memuat keindahannya. Jadi tunggu apa lagi, segera packing dan pesen travel ke sana. :mrgreen:

 

Iklan